Smartphone Addiction dan Tumbuhnya Budaya Kebodohan Bersama

Di Health 70 views

Smartphone addiction merupakan sebuah fenomena dimana orang-orang kecanduan terhadap teknologi yang sedang maju yakni, ponsel pintar (smartphone).

Survei yang dilakukan sebuah lembaga e-commerce (marketplace seperti tokopedia, bukalapak, lazada, blibli, dll) menyebutkan bahwa!

Rata-rata orang Indonesia mengecek smartphone mereka hingga 150 kali dalam sehari.

Mungkin Anda termasuk salah satu diantaranya.
Lalu,

  • Mengapa Smartphone Addiction pelan-pelan bisa mengakibatkan kultur kegoblokan kolektif?
  • Mengapa smartphone addtiction bisa menumbuhkan peradaban masyarakat yang terkena sindroma kebodohan massal?
Smartphone Addiction dan Tumbuhnya Budaya Kebodohan Bersama
Smartphone Addiction dan Tumbuhnya Budaya Kebodohan Bersama

Sejatinya, telah banyak studi saintifik yang melacak tentang impak smartphone terhadap human behavior (kebiasaan manusia).

Dan bahkan juga terhadap struktur sel otak Anda sebagai pecandunya.

Lihat, misalnya buku karangan Nicholas Carr yang bertajuk The Shallow : What the Internet Is Doing to Our Brain.

Kesimpulan dari sejumlah studi itu cukup kelam (suram/gelap).

Tak jarang smartphone addiction justru membuat otak kita makin bodoh to becoming dumber (lebih dungu / bloon).

Bukan kita yang makin pintar melainkan smartphone-nya makin smart.

Namun user-nya (pengguna) dibuat makin goblok.

Secara lebih spesifik, terdapat setidaknya tiga temuan yang layak dikenang tentang impak smartphone addiction terhadap human behavior. Mari kita ulik satu demi satu.

1. Smartphone Bikin Pikiran Kita Makin Dangkal

Salah satu ciri khas smartphone itu seperti ini.

Serba cepat dan melompat-lompat seperti tupai.

Kita scroll-scroll berbagai macam apps (seperti Facebook, Twitter, Instagram).

Dengan cepat dan sering tanpa jeda.

Scroll, scroll.

Klik ini, klik itu.

Lalu scroll-scroll lagi.

Lalu klik, klik lagi. Demikian terus berulang sampai hari berikutnya.

Pola kebiasaan scroll-scroll, klik, klik semacam itu.

Itu membuat otak kita untuk selalu mengkonsumsi informasi dengan serba tergesa (instan / cepat) dan tanpa kedalaman (dianalisis apakah berita benar / hoax seperti isu gempa).

Dan itulah yang juga kemudian disajikan para penyedia konten (entah konten media informasi, media sosial atau aneka situs hiburan).

Misalnya seperti dibawah ini.

Begitu banyak media online yang hanya menyajikan berita-berita pendek, dangkal dan alakadarnya (bukti kuat seperti tanggal, peristiwa terjadinya, data yang berisikan fakta khusus untuk berita, kesehatan).

Sering disertai dengan strategi click-bait (Judul Menggoda) atau menggunakan judul yang mis-leading agar diklik banyak pembacanya.

Jutaan status di media sosial juga pendek, dan lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas.

Jarang ada kedalaman analisa didalamnya (apakah status dia benar-benar valid / ada?).

  • Apa akibat dari pola kebiasaan scroll-scroll, serba melompat cepat dari satu app ke app lainya, disertai dengan limpahan informasi yang dangkal itu?

– Akibatnya kelam:
Otak kita di-didik agar tak mampu melakukan deep thinking dan deep analysis.

Padahal, inilah dua elemen kunci bagi kecerdasan.

Yang muncul adalah shallow thinking, pikiran yang dangkal dan memicu kegoblokan kolektif.

Begitu banyak komen di media online dan medsos yang:

  1. asal njleplak (menjawab / ngomong) tanpa bukti kuatnya.
  2. Tanpa mikir.
  3. Sudah pasti tanpa disertai deep thinking (pikiran yang mendalam).

3 diatas ini adalah akibat wajar dari pola yang diuraikan diatas.

Kultur smartphone memang dibangun untuk menciptakan konten asal bunyi dan tanpa mikir.

Betapa paradoks-nya kultur itu : smartphone adalah media yang amat canggih.

Namun acap kali gadget yang amat pintar ini hanya menghasilkan kebodohan massal.

2. Smartphone Menghancurkan Daya Resiliensi Anda

Impak kelam lain dari smartphone yang menyumbang bagi kebodohan massal adalah ini:

  • Smartphone adalah media yang amat ampuh untuk menghacurkan daya konsentrasi dan daya resiliensi Anda.

Sejumlah studi telah menunjukkan.

Kebiasaan main smartphone memang secara dramatis akan menurunkan daya konsentrasi Anda.

Smartphone addiction telah membuat “span of attention control” kita makin pendek.

  • Kenapa attention span kita dibikin makin pendek oleh smartphone?

Penjelasannya seperti di uraian no 1 diatas.

Pola scroll-scroll yang serba melompat dengan cepat dari satu app ke app lainnya mendidik otak kita untuk terus bergegas dan bergerak.

Otak kita dibiasakan untuk terus “bergerak”:

  • Klik ini, klik itu, dan secara instan langsung menemukan obyek yang menarik perhatian. 

Namun durasi perhatian ini amat pendek.

Dengan cepat, jempol kita kemudian bergerak lagi, scrol lagi, klik lagi.

– Kultur smartphone semacam itu melatih otak kita untuk mudah bosan.

Otak kita dilatih untuk nggak mau berlama-lama pada satu titik. Attention span kita dibikin makin pendek.

  • Dan apa akibat dari pola perilaku semacam itu?

– Akibatnya rada kelam:
Daya konsentrasi kita pelan-pelan menurun secara dratis.

Keteguhan mental kita untuk bisa FOKUS pada sebuah aktivitas yang penting, menjadi mudah lenyap.

Daya resiliensi atau daya keuletan kita untuk terus gigih menekuni sebuah aktivitas yang penting; menjadi mudah menguap.

  1. Kita mudah bosan.
  2. Kita mudah kehilangan konsentrasi.
  3. Kita mudah kehilangan fokus.

– Kenapa kita mudah kehilangan fokus?
Karena memang kultur smartphone yang kita jalani setiap hari mendidik otak kita untuk mudah kehilangan fokus.

Kultur smartphone dengan sukses telah melatih otak Anda untuk terus melompat-lompat tanpa henti, selalu menghadirkan sensasi instan yang membuat Anda kecanduan.

  • Dan apa yang terjadi saat Anda mudah kehilangan fokus gara-gara terjebak kultur smartphone?

Proses perjuangan untuk mengubah nasib jadi akan makin sulit. Sebab mengubah nasib amat butuh daya keuletan dan daya resiliensi.

Saat ketangguhan mental dan fokus lenyap, maka perjuangan mengubah nasib biasanya akan gagal. Nasib jadi stagnan.

Dan saat nasib stagnan, maka sel otak kita biasanya akan makin tulalit. Makin plonga plongo.

3. Smartphone dan Waktu Anda yang Hilang Akan Sia-sia

Dampak yang terakhir dari smartphone addiction ini mungkin tak kalah powerfulnya:

  • Waktu kita bercengkerama dengan smartphone telah merampas begitu banyak waktu produktif kita.

Jutaan orang mungkin telah menghabiskan jutaan jam bersama smartphone-nya:

  • Menikmati aneka konten seperti media dan hiburan online yang dangkal, atau juga menikmati aneka game online yang adiktif.

– Yang amat kelam:
Ribuan jam yang telah dihabiskan dengan smartphone itu mungkin sama sekali tidak berdampak bagi peningkatan skills dan income.

Kenapa begitu?
Ya karena konten online (berita, hiburan dan game) yang dinikmati via smartphone.

Itu memang SAMA SEKALI TIDAK ada kaitannya dengan skills yang krusial bagi perubahan nasib dan income (pendapatan ).

Betapa sia-sianya waktu yang hilang bersama smartphone.

Misal ada seseorang yang bisa menghabiskan 3 jam setiap hari untuk main smartphone:

  • Scroll-scroll IG Stories yang semu, klik berita online yang dangkal, cek status medsos yang isinya penuh dengan keributan, lalu scroll-scroll lagi. Klik, klik lagi. Lalu ulangi tiap hari.

Bayangkan jika waktu 3 jam tiap hari itu dia ubah menjadi waktu untuk belajar dan praktek tentang Internet Marketing selama 3 jam sehari.

Ulangi tiap hari.

Saya cukup yakin, dalam bulan ke 7, income dia bisa naik 2 kali lipat.

Sayangnya, waktu 3 jam tiap hari itu selama ini lenyap sia-sia bersama IG Stories yang semu, aneka berita online yang dangkal, dan konten medsos yang penuh kegaduhan.

DEMIKIANLAH, tiga dampak dari smartphone addiction yang pelan-pelan bisa membikin kebodohan massal, dan stagnasi nasib.

Ketiganya adalah :
Smartphone Impact # 1 : Bikin Pikiran Kita Makin Dangkal
Smartphone Impact # 2 : Menghancurkan Daya Resiliensi Anda
Smartphone Impact # 3 : Waktu yang Hilang Sia-sia

Sumber: strategimanajemen

Tags: #Smartphone Addiction

Lakukan apa yang menurut kamu baik untuk dilakukan

Tinggalkan pesan "Smartphone Addiction dan Tumbuhnya Budaya Kebodohan Bersama"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Top